July 25, 2014

Ternate, rumahalir.or.id – Tambang, selalu saja ciptakan masalah baik sosial, ekonomi maupun lingkungan hidup. Aktifitas pertambangan yang dilakukan di Pulau Gebe kabupaten Halmahera Tengah jika diamati dari aspek pengolahan lingkungan masih sangat jauh dari harapan dimana dampaknya terhadap lingkungan hidup sangatlah fatal.

Menurut sumber terpercaya media ini, selama ini, perusahan yang ada di Pulau Gebe masih mengabaikan aspek lingkungan. Aktifitas perusahan yang dilakukan masih menyisihkan sejumlah masalah yang berdampak langsung pada kehidupan sosial. Kondisi ini membuat sejumlah aktifis dan masyarakat di pulau Gebe angkat bicara menyikapai kondisi social ekonomi yang terasa memprihatinkan.

Kepada Talasukma (22/06), Ajaria Rabo, S.Sos mengatakan, kondisi social ekonomi dan lingkungan hidup di pulau Gebe kembali terusik dengan kehadiran sejumlah perusahan yang bergerak disektor pertambangan. Menurutnya, pemerintah dearah dan pihak perusahan harus benar-benar dan serius dalam menangani kesenjangan sosial yang timbul akibat dari eksploitasi pertambangan yang kian marak.

“Saat ini masyarakat semakin merasakan imbas dari aktifitas perusahan. Nelayan setiap saat mengeluhkan kondisi perairan laut yang tercemar. Akibatnya mereka semakin jauh melaut dan tentunya membutuhkan biaya yang lebih terutama BBM”, kata Ajaria, pemerhati sosial di Pulau Gebe Halmahera Tengah.

Kondisi lain yang saat ini dirasakan oleh warga desa Mamin kecamatan Pulau Gebe yakni sumber air minum mereka yang sudah tercemar. Hal inisemakin meresahkan masyarakat setempat.
“Air di desa Mamin mulai tercemar, warnahnya semakin keruh. Kami khwatir jika masyarakat sering mengkonsumsi air ini maka akan berdampak pada kesehatan mereka. Apalagi sumber air disini adalah satu-satunya yang mereka miliki selama ini”, Pungkas Ajaria yang juga warga Pulau Gebe.

Lebih jauh dikatakan, pencemaran limbah perusahan yang terjadi pada perairan launtentunyaa kan mematikan ekologi disekitar pulauGebe. Warga berharap adanya peran signifikan dari Pemda Halmahera Tengah dan pihakSwasta (Perusahan) untuk melakukan langkah-langkah penyelamatan terhada pekologi yang terancam saat ini utamanya yang berada di perairan sekitarpulau Gebe.(mw)

Comments

Moenawar Wachid, Lahir di Semenanjung Halmahera, Maluku Utara, 06 Juni 1986. Tahun 2012 Aktif sebagai ketua Divisi Penelitian Dan Pengembangan pada Yayasan SEMANK Maluku Utara. Terlibat sebagai Jurnalis pada Koran Harian Gamalama Post (2012) dan bersama beberapa sahabat jurnalis mendirikan Tabloid Zaman (2013). email : poetra_wathamil@yahoo.com HP : 0813 5645 3424

Moenawar Wachid

Comments are closed.