LOTENG, rumahalir.or.id Pilihan Putri Mandalika untuk menceburkan diri ke laut membuat keluarga dan rakyat kerajaan Tonjang Beru bingung. Pangeran yang ingin memperistri sang putri juga tidak kalah bingung. kluarga kerajaan dan masyarakat yang mengikuti pengumuman langsung mencari sang putri begitu sang putri mencemburkan diri ke laut.
KILAT menyambar angkasa wilayah selatan saat Putri Mandalika mencemburkan diri ke laut. Angin kencang menyapu perairan sehingga mengakibatkan sedikit gelombang. Bersamaan dengan gerimis turun membasahi bukit dan pasir pantai sejauh mata memandang. Tidak lama setelah sang putri menceburkan diri, keluarga dan masyarakat kerajaan Tojang Beru langsung turun ke laut untuk mencari Putri Mandalika. Pangeran kerajaan lain bersama rakyatnya juga melakukan hal yang sama. Mereka mencari sang Putri dengan harapan putri jelita tidak cidera dan bisa bertahan hidup. Pencarian yang dilakukan keluarga kerajaan dan masyarakat sia-sia. Jasad Putri Mandalika tidak ditemukan. Dalam proses pencarian ke sepanjang pantai kawasan Seger, keluarga kerajaan dan rakyat hanya menemukan gulungan cacing warna-warni yang mengeluarkan cahaya.
Ketika menemukan banyak cacing yang menyala ( cacing wawo) masyarakat baru sadar akan kata-kata terakhir sang putri sebelum mencemburkan diri ke laut. Sebelum mencemburkan diri kelaut sang putri berpesan kalau dirinya bisa dimiliki dan dinikmati oleh semua orang. Itu merupakan wujud cinta kasih sang putri kepada semua pangeran dan masyarakat. Cacing warna warni yang muncul beberapa saat setelah Putri Mandalika menceburkan diri ke laut merupakan jelmanya. Cacing muncul di pinggir perairan selanjutnya ditangkap keluarga kerajaan Tonjang Beru dan rakyatnya. Cacing wawo warna warni yang muncul ke permukaan pada bulan 20 tanggal 10 penanggalan Sasak, kemudian diberi nama Nyale oleh masyarakat. (Tunggu Ceritanya)









