Lombok Utara, RumahAlir – Madrasah Tsnawiyah Maraqitta’limat (MTs-MT) Dusun Lenggorong Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara merupakan salah satu lembaga pendidikan keagamaan yang memadukan kurikulum Departemen Agama dan Pendidikan Kebudayaan, yang tujuannya untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) dan keterampilan siswa.
Pendirian MTs-MT diawali dengan pendirian sebuah Madrasah Diniyah Maraqitta’limat Lenggorong sekitar tahun 1997 yang dirintis oleh para tokoh agama setempat yang semuanya sudah menjadi almarhum. Tokoh dimaksud antara lain, A. Burhan, A. Ziadi, Ustadz mamnun, H. As’ad, A. Imran serta beberapa tokoh lainnya.
Semua tokoh ini berasal dari berbagai desa di Kabupaten Lombok Timur, yang melakukan transmigrasi ke Dusun Lenggorong pada tahun 1984. Mereka semua bekerja sebagai petani dan buruh tani. Mengingat pada saat itu, belum ada sekolah dan tempat mengajar anak-anak mengaji, puluhan tokoh ini berinisiatif mendirikan sebuah lembaga pendidikan berupa Madrasah Diniyah yang diresmikan langsung oleh pimpinan pusat yayasan Maraqitta’limat, TGH. Hazmi Hamzar.
Sayang, ketika diniyah ini mengalami kemajuan dan perkembangan yang cukup pesat, para pendirinya-pun satu persatu kembali kehadapan Allah SWT. Keendati demikian, generasi penerusnya tak mau kalah dalam berjuang. Mereka terus berupaya mengabadikan amal jariah para pendahulunya dengan meningkatkan pembangun diniayah yang semua beratap daun rumbia dan berpagar kayu menjadi sebuah bangunan yang permanen, yang sekarang ini selain sebagai tempat anak-anak belajar ilmu agama juga dimamfaatkan sebagai tempan Pendidikan Anah Usia Dini (PAUD).
Keberadaan diniyah ini cukup disambut antusias oleh mayarakat setempat dan sebagai cikal bakal berdirinya sebuah lembaga pendidikan setingkat SLTP yaitu MTs. Maraqitta’limat Lenggorong. “Diniyah ini merupakan sebuah awal perjuangan para orang tua kami dulu, sehingga untuk melanjutkan perjuangan mereka, pada tahun 2006 kami sepakat untuk mendirikan MTs MT ini”, ungkap ustadz Hamdan, S.Pd.I, salah seorang penggagas lembaga pendidikan yang sekaligus sebagai ketua ranting Yayasan Maraqitta’limat Lenggorong.
Pendirian MTs MT, menurut Hamdan, merupakan dorongan jiwa dari para orang tua yang tinggal di Dusun Lenggorong yang sudah bersusah payah mengembangkan program pendidikan etingkat diniyah. Selain itu, karena mengingat sekolah setingkat SLTP jaraknya cukup jauh atau sekitar 6 km, sehingga para orang tua kasian melihat anak-anaknya yang harus berjalan kaki ke sekolah dan sering terlambat masuk.
Pendapat senada juga diungkapkan oleh Maiman yang ikut berjuang mendirikan MTs.MT ini. “Kita dirikan sekolah ini karena mengingat banyak anak-anak kami yang putus pendidikannya setelah tamat SD, sementara jarak antar SMP dengan dusun Lenggorong cukup luimayan jauh, sehingga anak-anak tidak kuat berjalan kaki pulang-pergi. Dan keberadaan MTs ini merupakan kebutuhan masyarakat untuk mensukseskan program wajib belajar 9 tahun”, jelas Maiman.
Mengutamakan Kualitas dan Keterampilan Siswa
Kendati MTs MT Lenggorong berada di dusun terpencil dan jaun dari pusat kota kecamatan mamupun kabupaten, namun soal prestasi mampu bersaing dengan sekolah lainnya. Buktinya, para siswanya pernah meraih juara I Lomba Lintas Alam (LLA) se Pulau Lombok yang digelar pada tahun 2011.
Selain itu selama dua kali siswanya mengikuti ujian nasional, semuanya lulus 100 persen yang nilainya tidak kalah dengan siswa lainnya. “Dari sisi kulitas, Alhamdulillah para siswa kita mampu bersaing, sehingga pada setiap kali mengikuti ujian nasional selalu lulus 100 persen”, kata Hamdan, yang juga Kepala MTs. MT Lenggorong.
Di bidang exstra kurikuler, sekolah yang terletak di perbatasan antar Kabupaten Lombok Utara dengan Kabupaten Lombok Timur ini, mengembangkan pendidikan dakwah Islam, yang tujuannya selain meningkatkan iman dan taqwa bagi siswa, juga sekaligus mencetak kader-kader dakwah yang handal, agar setelah tamat nanti, para siswa mampu mensyiarkan Islam ditengah-tengah masyarakat.
Dalam bidang keterampilan, para tenaga pendidik yang berjumlah 19 orang dan semuanya honorer itu mengembangkan seni tari bernafaskan Islam, yang pada setiap acara keagamaan para siswanya selalu tampil dengan tarian yang cukup memukai bagi yang menyaksikan.
Satu hal yang cukup menarik dan dapat dijadikan sebagai pembelajaran bagi sekolah lainnya, yaitu pengembangan keterampilan bertani. Para siswa yang berjumah 41 orang selain dididik sesuai dengan kurikulum yang berlaku juga dididik keterampilan menanam pohon buah naga diareal seluas kurang lebih 1 hektar. “Buah naga dari hasil tangan-tangan terampil para siswa sekarang ini sudah mulai berbunga, dan dalam beberapa bulan kedepan sudah bisa dinikmati hasilnya”, jelas Hamdan.
Mengapa dilatih bertani? Menjawab pertanyaan tersebut, Hamdan yang sudah berusia separuh baya ini mengaku, kegiatan ini dilakukan karena mengingat yang sekolah di MTs. MT seratus persen anak petani. Mengingat hal tersebut, para pendidik terus berupaya melakukan kegiatan keterampilan bagi siswa yang bukan saja bermamfaat untuk dirinya, tapi juga bermamfaat untuk orang lain atau lingkungannya.
Keterampilan lain yang juga dikembangkan adalah keterampilan membuat miniatur, pot bunga, dan lain-lain. Semuanya itu bertujuan selain meningkatkan kualitas sekaligus melatih dan mengasah keterampilan serta bakat masing-masing siswa. “Semua kegiatan keterampilan itu sebagai langkah membuka lapangan kerja, sehingga bagi siswa yang tak mampu melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi, dapat mengembangkan keterampilan yang sudah diberikan di sekolah”, kata Asri, S.Pd, salah seorang guru setempat.
Dalam kegiatan Pramuka, siswa sekolah yang satu ini tidak pernah mau ketinggalan, bahkan pada 21 januari 2012, sekolah ini mensponsori kegiatan pramuka yang diikuti oleh 7 sekolah tingkat SD dan SLTP yang kegiatannya dipusatkan di lapangan umum Dusun Lenggorong Desa Sambik Elen.
Apakah kegiatan exstra kurikuler yang begitu banyak itu tidak menganggu pelajar para siswa? “Tidak menganggu, karena semua kegiatan itu dilaksanakan pada saat waktu luang atau setelah pulang sekolah. Intinya, pelajaran sesuai kurikulum tetap berjalan normal, karena semua kegiatan exstra kurikuler itu kita laksanakan diluar jam sekolah”, tegas Hamdan menjawan pertanyaan RumahAlir.
Dari seabrek kegiatan MTs. MT yang terus dipublikaikan baik melalui media cetak ataupun elektronik, membuat sekolah ini sering mendapat kunjungan dari para tamu mancanegara, seperti Australia, Italia dan dari Eropa, yang datang hanya sekedar menikmati dan melihat langsung hasil-hasil karya siswa MTs. MT Lenggorong.









