Lotim, Rumahalir.or.id - Nurmasih (14), salah seorang siswa kelas 1 SMP terbuka Jeringo, mengaku senang sekolah tempatnya belajar sekarang lebih dekat dari kampungnya, karena jika jaraknya lebih dari 2 kilometer, ia sering khawatir jika hujan turun jalan menurun dari Puncak Jeringo tergolong licin, selain berbatu-batu dan berlumpur. Nurmasih mengaku pernah sempat putus sekolah selama 2 tahun, namun sejak SMP terbuka ada dia bisa melanjutkan lagi sekolahnya.
Nurmasih adalah anak terakhir dari 4 bersaudara, dia tinggal di Puncak Jeringo, putus sekolah selama 2 tahun baginya sangat menyedihkan, “waktu itu tak ada SMP, dan MTS tapi jarak 7 kilometer dari Dusun saya, di desa Perigi, jauh” kata Nurmasih.
Sungguh tak mungkin bagi Nurmasih dan kawan-kawan di kampungnya berjalan kaki ke Desa Perigi. Nurmasih mengatakan banyak juga kawan-kawannya yang putus sekolah dan beristirahat hingga 6 tahun, begitu ada SMP terbuka, mereka bias mengenyam pendidikan lagi.
Nurmasih mengatakan untuk sekolah ke Desa terdekat seperti Perigi sangat tak mungkin, karena keluarganya termasuk keluarga miskin “tak ada uang orang tua untuk sekolahkan saya, di sini gratis, bisa sekolah lagi” katanya. Cita-cita Nurmasih ingin menjadi guru, katanya dia ingin mengajar di dusunnya, agar anak-anak di dusunnya tetap bersemangat bersekolah. Di samping 3 saudaranya tak ada yang sekolah, dia ingin kedua orang tuanya bangga padanya.









