Lombok Timur, Rumahalir.or.id – Sekelompok anak muda tampak asyik memainkan beberapa alat musik sederhana. Suara tabuhan alat musik yang terdiri dari panci, ember dan bambu yang dipadukan dengan gitar bolong, terdengar syahdu. Dan musik inilah yang dikenal dengan kesenian tradisional Olor Chetok.
Olor Chetok dalam bahasa Indoensia berarti parit kecil yang tidak memiliki hulu dan hilir. Sanggar Olor Chetok yang terletak di Dusun Montong Gedeng desa Ketangga Kecamatan Suela Kabupaten Lombok Timur, pada awalnya, hanya sekedar hoby dari para pemuda yang cinta akan kesenian tradisional, dan didirikan pada tahun 1999.
Namun lambat laun sanggar ini dikenal oleh masyarakat sekitar, sehingga bila ada hajatan warga kadang-kadang kelompok sanggar ini diminta untuk memainkan Olor Chetok sebagai penghibur bagi para tamu yang datang.
Menurut salah seorang pendirinya, Eros, pada tahun 1999, jumlah anggota pemainnya sembilan orang. Sesuai dengan perkembangan zaman, anggotanya-pun terus bertambah yang hingga saat ini mencapai 50 orang. Sementara para pendiri sanggar ini antara lain,Edy, Ucup, Omang dan Eros.
Eros menuturkan, dari hasil pentas keliling kampung, kelompok sanggar ini telah mampu memiliki alat musik temasuk sound system yang memadai.
Selain itu kelompok ini juga mengembangkan beberapa kegiatan seperti, kursus menjahit,bertani, penghijauan berternak bebek atau itik.
semua itu dilakukan untuk memandirikan ekonomi anggotanya. “Dari hasil jahitan kelompok sanggar ini sudah mulai dapat dipasarkan di wilayah sekitar”, kata Eros.










