SOLIDARITAS PEMUDA PULAU UNTUK PERJUANGAN WARGA REMBANG

Published by:

Aksi Solidaritas SPARTA untuk Rembang. Massa berjalan dalam satu barisan ke belakang sembari berorasi.

Ternate, rumahalir.or.id — Sabtu malam (21/06), puluhan pemuda yang tergabung dalam Solidaritas Perjuangan untuk Rakyat Tertindas (SPARTA) Maluku Utara, menggelar aksi solidaritas dan penggalangan dana untuk perjuangan warga Rembang-Jawa Tengah menolak tambang kapur dan pabrik semen oleh PT. Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng.

Aksi long march yang digelar dari Taman Nukila hingga Kawasan Jatiland Mall itu mengusung tema sentral “Mari Bersolidaritas, Selamatkan Bumi Rembang!”.

Menurut Samsi Mahmud, Koordinator Lapangan SPARTA, aksi ini diselenggarakan dalam makna membuktikan bahwa rasa kepedulian dan solidaritas antar sesama tidak bisa dihancurkan sepenuhnya oleh sistem kapitalisme hari ini. Continue reading

Program Hibah Penelitian Perubahan Iklim

Published by:

logo_DNPI_Indonesia_s
Yth. Ketua Lembaga Penelitian/LPPM di seluruh Indonesia

Menyadari pentingnya kegiatan penelitian yang terkait dengan perubahan iklim, dengan hormat kami sampaikan tawaran Program Hibah/Grand Penelitian Perubahan Iklim dari Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) yang diketuai oleh Presiden Republik Indonesia dengan dua orang wakil Ketua yaitu Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan Menteri Koordinator Perekonomian. Continue reading

Cultural Walking Tour (CuWaT)

Published by:

PUSAT PENGUNJUNG DAN PROMOSI PAGUYUBAN DESA ADAT MANDIRI BAYAN, sebelah kantor desa bayan

Bayan, Lombok Utara Tawarkan Pesona Wisata Budaya dan Alam. Obyek wisata yang ada di Desa Bayan tidak kalah menarik dengan obyek wisata lainnya di Pulau Lombok, lebih-lebih setelah dibukanya kolam pemandian di hutan adat Mandala Desa Bayan Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. Paket wisata yang ditawarkan antara lain:

Walking Tour Interpretif di Permukiman Sekitar Mesjib Bayan Beleq
Berbagai Bangunan di Desa Adat Bayan memperlihatkan/menggambarkan unsur-unsur pembentuk jati diri orang Bayang yang menghargai  Tuhannya,  sesamanya dan alam/lingkungannya. Tur ke berbagai bangunan adat di Desa Bayan akan melihat bagaimana filosofi hidup Masyarakat Suku Bayan yang sesungguhnya. Tur ini  akan memakan waktu 1,5 – 2 jam melalui jalan yang relatif datar dan berkondisi cukup baik/diperkeras.  Tour ini dipandu oleh guide yang sudah disiapkan di Balai Pusat Informasi di Bayan

Rumah Adat Bayan Timur
Pada zaman dahulu Bayan disebut suwung artinya daerah yang banyak ditinggal penghuninya atau sepi. Suwung dipimpin oleh seorang Raja atau disebut Datu Bayan. Bayan artinya penerang.
Diberikan nama Bayan karena Islam merupakan penerangan/pencerahan bagi masyarakat pulau Lombok berkembang dan pertama dari daerah ini dan menjadi sebuah kerajaan Islam tertua di Lombok, sehingga Rajanya bergelar Susuhunan Ratu Mas Bayan Agung.
Silsilah menyebut bahwa Raja Bayan bersaudara  tidak kurang  18 orang  hasil  perkawinan Raja sebelumnya  dengan beberapa istri dan selir. Saudara-saudara Raja Bayan  kemudian menyebar ke seluruh pulau Lombok dan beranak pinak.

Makam Bayan Timur
Makam di Desa Bayan merupakan tempat yang penting. Pertama karena ini menandai salah satu masa/waktu penting dari tiga waktu penting yang dilalui Orang Bayan, dan saya yakin semua orang pula, yaitu lahir, hidup dan mati. Kedua, beberapa makam merupakan makam orang-orang penting  dalam kehidupan Suku Bayan ada upacara adat yang terkait dengan makam-makam tersebut.

Pemandangan Gunung Rinjani dari  Bangket Uban
Puncak Gunung Rinjani menurut kepercayaan masyarakat Lombok/Sasak merupakan singgasana Dewi Anjani yang merupakan Ratu para Jin. Sebagian masyarakat lokal percaya bahwa Nama suku Sasak adalah pemberian dari Dewi Anjani.  Dari puncak ke arah tenggara terdapat sebuah lautan debu ( kaldera ) yang dinamakan Segara Muncar.
Pada saat-saat tertentu, dengan kasat mata dapat terlihat istana Ratu Jin. Pengikutnya merupakan golongan Jin yang baik baik. alkisah Ratu Jin Dewi Anjani adalah seorang putri Raja yang tidak di izinkan menikah dengan kekasih pilihannya. pada suatu tempat mata air bernama Mandala sang Ratu Menghilang. ia berpindah tempat dari alam nyata menuju alam gaib ( alam Jin ).

Masjid Kuno Bayan Beleq
Mesjid Kuno Bayan Beleq diperkirakan didirikan pada sekitar  abad ke-16 atau setelah pengaruh Kerajaan Majapahit atas PulauLombok. Masjid ini beratap bamboo dan berlanMAKAM disekitar masjid kuno bayantai tanah.
sebelum memasuki Mesjid, para kyai akan berwudhlu dari air guci . Rendahnya pintu mesjid membuat semua yang akan memasuki mesjid harus merunduk. Filosofinya adalah  setiap orang yang hendak menghadap kepada Allah (Tuhan) harus merendahkan diri dihadapan-Nya.

Di sebelah kanannya terdapat sebuah mimbar khotbah yang sederhana. Pada bagian atas mimbar terdapat hiasan naga yang di bagian badannya dihiasi tiga buah bintang bersudut 12,8, dan 7. Angka ‘12’ melambangkan bulan, angka ‘8’ melambangkan tahun alip, dan ‘7’ melambangkan hari. Di samping itu, juga terdapat hiasan berupa pohon, ayam, dan telur serta menjangan.

Rumah Adat Karang Salah
Ini merupakan tempat kediaman tetua dan pemangku Karang Salah yang mempunyai tugas sebagai penasehat dalam bidang keagamaan dan adat, serta bidang hubungan kemasyarakatan, selain itu juga sering sebagai narasumber ( mewakili desa Bayan untuk acara budaya baik didaerah atau luar daerah serta mancanegara).
Tugas yang diemban Pemangku Karang Salah, terlihat bahwa Masyarakat Suku Bayan juga menaruh perhatian dalam pengurusan hubungan sosial/seamanya, tidak hanya antar masyarakat Bayan, tetapi juga masyarakat di luar Bayan.  Pemangku Karang Salah bertugas sebagai penasehat untuk urusan-urusan yang terkait hubungan kemasyarakatan, suatu bidang yang ditangani oleh Tokoh Adat yang tempat tinggalnya adalah  titik perhentian pengunjung.

Tenun Bayan 02Kerajinan Tenun
Kain Bayan memiliki motif kotak2, semntara kain di Lombok Tengah biasanya  memiliki bergaris-garis, polos atau songket.  Kaum perempuan di Bayan biasanya menenun kain sendiri untuk membuat kain-kain yang akan dikenakan dalam upacara/acara2  adat.
Kain-kain yang dibuat adalah:
Kain Poleng, adalah kain yang digunakan pada saat acara-acara seperti Gawe Beleq, perkawinan, pawai budaya

  • Kain Merah: digunakan pada saat acara adat ngaji makem, lebaran adat, dan maulid adat.
  • Kain Poleng. Pengunaan kain poleng dilengkapi dengan kemben lipak,sampur dan jong bayan bagi perempuan atau poleng bagi laki laki dipergunakan untuk pesta2 meriah seperti hajatan kawinan/sorong serah saji krama karena poleng dengan warna warni tersebut melambangkan kemeriahan,kemewahan dan keindahan yang hanya cocok untuk pesta-pesta/gawe urip. Tetapi mengunakan motif londong abang dengan warna merah hati dikombinasi rejasa sebagai kemben bagi perempuan dan dodot bagi laki2 hanya dipergunakan untuk ritual2 sakral seperti ngaji makam dan acara2 yang berhubungan dengan keagamaan.
  • Lipa’, digunakan untuk kemben/menutup tubuh dalam acara adatberbagai jenis corak dan pembuatan kain tenun Bayan
  • Rejasa atau dodot, digunakam untuk para lelaki bangsawan menutup tangan kiri (menyampur). Digunakan pada acara adat maulid, lebaran dll.
  • Jong adalah penutup kepala untuk perempuan yang digunakan pada saat acara adat.

Rumah Adat Bayan Barat
Merupakan kompleks perumahan yang didiami oleh Pembekel Bayan Barat yang mempunyai tugas memimpin pelaksanaan adat Luir gama atau acara2 adat yang berkaitan dengan urusan di luar urusan keagamaan.  Nah di komplek ini terdapat beberapa bangunan yang mirip dengan di Komplek RumahAdat Bayan Timur .
Lumbung, tempat meyimpan hasil sawah -padi bulu- yang tadi sudah kita lihat di Bangkettuban merupakan wujud hubungan orang Bayan dengan alamnya ditempatkan –menggarap sawah, pengelolaan air, dll. Lumbung ada di Bayan Barat karena Pemangku di Bayan Barat  lah yang bertanggung jawab untuk urusan yang terkait dengan alam.
Jika dilihat dari bedanya apakah Bapak/Ibu/teman2/adik2 bisa melihat perbedaan Lumbung padi di Bayan dan di Lombok pada umumnya seperti yang sering dilihat di berbagai brosur pariwisata Pulau Lombok.

Rumah Adat Penghulu
Merupakan tempat kediaman atau rumah pejabat penghulu salah satu pemimpin keagamaan/kiayi keagungan secara kelembagaan. Kiayi Penghulu adalah peminpin daripada kiayi santri yang bertugas melayani kebutuhan bidang keagamaan bagi komunitas suku Bayan di masjid kuno. Penghulu bertugas sebagi Imam Utama, bila berhalangan baru dapat digantikan oleh kiayi Keagungan lainnya.

Ini adalah akhir perjalanan pengunjung untuk memahami filosofi kehidupan dan adat istiadat Masyarakat Suku Bayan.
Bisa dilihat  bahwa pada umumnya tidak berbeda dengan masyarakat muslim lain  yang berupaya menjalankan kewajiban2 sesuai syariah. Namun demikian terdapat ekspresi budaya lokal yang memberi warna lain dalam peringatan berbagai hari besar  keagamaan dan peristiwa dalam kehidupan masyarakat Bayan.
Hal tersebut membuat ekspresi budaya masyatakat Bayan berbeda dari masyarakat muslim lain seperti yang mungkin juga terjadi di berbagai daerah di indonesia maupun belahan dunia lainnya, bahkan berbeda dengan eskpresi Suku Sasak di Lombok pada umumnya.

Harga Cuwat ( 2 Jam Tour )
–  1 Fax         Rp. 300.000,-
–    2 Fax        Rp. 250.000,-
–    4 Fax s/d 6    Rp. 200.000,-
–    6 Fax s/d 10    Rp. 150.000,-

HUBUNGI: PUSAT PENGUNJUNG DAN PROMOSI PAGUYUBAN DESA ADAT MANDIRI BAYAN, Sebelah Kantor Desa Bayan, ATAU KONTAC , RADEN RASMADI, 087 864 259 37, Email: ariprimadona@gmail.com, rasmadiraden@gmail.com

650 Peserta Mengikuti Jambore Ranting

Published by:

Zemanta Related Posts Thumbnail

DSC07546-001Lotim. Rumah alir.or.id_Kwartir kecamatan Suela menggelar Jambore ranting 2013 di Bumi Perkemahan UPTD Dikpora Suela, Desa Ketangga Ketangga, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, senin s/d selasa (16-17/12/2013). Jambore diikuti 650 peserta perwakilan dari 60 sekolah SD, SMP/MTs Negeri dan Swasta se-kecamatan Suela.

Kepala UPTD Dikpora Kecamatan Suela, L. Ahmadi M.Pd mengatakan bahwa tujuann pelaksanaan jambore ranting ini adalah untuk menumbuhkan rasa kebangsaan yang ber-Bhineka Tunggal Ika secara silaturrahmi, nasionalisme serta mewujudkan manusia Indonesia yang memiliki kualitas keimanan dan ketaqwaan, kedisiplinan, kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta berjiwa Pancasila sesuai dengan isi kaidah satria darma pramuka.

DSC07518-001Menurutnya, tema Jambore ranting tersebut adalah meningkatkan kesatuan dan persatuan generasi muda yang berkarakter. “Implementasi kegiatan ini tidak lain juga sebagai sarana pendidikan bela negara dengan menanamkan nilai-nilai nasionalisme serta mewujudkan karakter bangsa kepada seluruh peserta. Kegiatan Jambore juga sangat baik untuk membangun semangat keterbukaan dalam bersikap dalam kedisiplinan dan memupuk keimanan dan ketakwaan, menanamkan mental yang kuat, kepercayaan diri yang positif dan memberi tambahan pengalaman serta keterampilan yang berguna bagi anggota Pramuka Penggalang dan masyarakat pada umumnya sesuai amanat kaidah satria darma pramuka,” ungkapnya Ahmadi saat ditemui di lokasi gumi perkemahan.

Selama du hari Jambore diisi dengan berbagai kegiatan, diantaranya kegiatan umum yang meliputi kegiatan keagamaan, upacara dan apel, olahraga dan senam pramuka, serta permainan dalam kompetisi. Kemudian dilanjutkan dengan cari jejak yang diikuti seluruh peserta.

Selain itu harapan dari kegiatan jamboree tersebut L. Ahmadi mengatakan, pihaknya berupaya secara bersama-sama meningkatkan kegiatan jambore ranting mendapat peringkat terbaik dari jamboree ranting yang ada di kecamatan lain. “Harapan kedeepan pada kegiatan jamboree ranting ini kita upayakan secara bersama-sama dengan pihak guru untuk meningkatkan peringkat baik dari kegiatan jambore ranting di kecamatan lain” tandasnya.

TATA RUANG DALAM PERSPEKTIF RUANG KELOLA RAKYAT

Published by:

TATA RUANG DALAM PERSPEKTIF RUANG KELOLA RAKYAT

Seyogyanya, tata ruang merupakan upaya mengatur dan mengelola ruang wilayah dengan tiga jaminan yakni pertama, dalam menata ruang harus bisa menjamin warganya aman dan nyaman, inilah hal yang paling utama. Kedua, harus menjamin warga bisa produktif, kalau tidak produktif berarti ada kesalahan dalam penataan ruang, dan ketiga harus bisa menjamin kelangsungan pelayanan ekologis atau berwawasan lingkungan.

Namun di Indonesia, tata ruang justru menjadi salah satu pemicu lahirnya konflik antara warga, pemerintah dan perusahaan. Logika pembangunan untuk peningkatan ekonomi makro dalam kacamata bursa oleh pemerintah inilah yang melahirkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Dan karena tidak banyak melibatkan peran serta warga, menyebabkan penataan dan pengelolaan ruang justru melahirkan pemiskinan struktural, dimana sebagian besar warga tempatan harus kehilangan ruang kelola hidupnya, serta kerusakan lingkungan yang cukup kronis.

Perampasan Ruang Kelola Warga

Maraknya investasi ekstraksi skala besar yang berkepentingan terhadap sumberdaya negeri ini, mendorong RTRW yang dilahirkan oleh pemerintah tidak lagi berangkat dari logika penataan dan pembangunan berbasis keselamatam dan produktifitas, melainkan sebaliknya, pembangunan berbasis penggusuran dan pengerukan.

Berbagai konflik agraria yang terjadi dalam satu dekade terakhir dapat menjadi fakta konkrit. Adanya kekuatan koorporatokrasi dalam konflik agraria ini, mendorong penanganannya justru melibatkan militer dan atau keamanan. Polisi dan tentara dibayar oleh perusahaan untuk mengamankan akumulasi modalnya. Tidak penting warga kehilangan tanah, ekplorasi dan eksploitasi yang bias ekologi atau kemiskinan yang mewabah. Para aparat negara ini, justru menjadi yang terdepan dalam menghadapi serangan perlawanan warga demi kepentingan penumpukan kekayaan perusahaan-perusahaan “raksasa” tersebut.

Di beberapa wilayah, kejahatan HAM kerap terjadi, diantaranya kasus Tiaka, Bima, Mesuji, Kao, Weda, Buyat, Papua dan masih banyak lagi. Kriminalisasi, penembakan, penculikan, kekerasan seksual atau pembunuhan terhadap para aktivis warga yang melawan kejahatan koorporatokrasi ini, tidak lagi asing ditelinga, bahkan menjadi tontonan hampir setiap hari di berbagai media massa.

Tidak hanya konflik, perampasan sumber-sumber penghidupan dan ruang hidup warga di hampir seluruh wilayah ini, juga melahirkan peningkatan angka kemiskinan, pengangguran dan urbanisasi serta matinya institusi lokal. Ketidakmampuan melawan kekuatan besar ini, mengharuskan warga tempatan harus beralih profesi dari petani atau nelayan menjadi buruh—menjual tenaga dan jam kerja mereka—di perusahaan, atau menjadi urban ke kota dengan tidak memiliki jaminan mendapatkan pekerjaan yang aman dan nyaman.

Kerusakan ekologi

Fenomena pemanasan global yang berdampak pada perubahan cuaca ekstrim saat ini, ternyata tidak cukup menjadi alasan bagi para penimbun dollar untuk berhenti atau paling tidak mengurangi mengeruk dan menghancurkan bumi. Lihat saja bagaimana negara-negara annex 1, justru semakin gencar menancapkan kukunya ke negara-negara dunia ketiga yang masih kaya akan sumberdaya.

Indonesia untuk saat ini misalnya, program Masterplain Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) akan menjadi sarana penghancuran bumi semakin cepat. Investasi ekstraksi seperti pertambangan dan perkebunan pun akan semakin banyak, sementara hutan, laut dan sumber air akan semakin sedikit dan semakin sulit diakses warga tempatan.
Beberapa pengalaman kerusakan ekologi yang dihasilkan dari investasi ekstraksi, seperti tragedi teluk buyat yang tercemari merkuri (hg) akibat limbah Newmont Minahasa Raya, harusnya dapat menjadikan negara lebih peka terhadap kondisi lingkungan, bukan malah sebaliknya.

Konversi hutan untuk kepentingan pertambangan dan perkebunan skala massif justru dijadikan pemerintah daerah sebagai leading sektor untuk peningkatan PAD. Padahal beberapa penelitian sudah merekomendasikan agar dilakukan moratorium izin pertambangan, sebab daya dukung lingkungan sudah sangat memprihatinkan. Penghancuran kawasan hutan ini telah terbukti memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap pelepasan emisi karbon. IPCC menyebutkan emisi karbon dari deforestasi hutan tropis, pada tahun1990-an adalah 1,6 miliar ton karbon setiap tahunnya. Jika merunut pada program 1 miliar pohon tiap tahun yang dicanangkan oleh pemerintah, maka butuh 165 tahun untuk mengembalikan hutan Indonesia, sebab sampai 2011 terdapat 165 miliar pohon yang hilang dan rusak. Sementara disisi lain, obral perizinan terhadap aktivitas alih fungsi hutan oleh koorporasi perkebunan dan pertambangan skala massif terus saja mengalir baik ditingkat pemerintah pusat maupun daerah.

Perempuan

Selain sektor petani dan nelayan yang mendapatkan dampak kehilangan akses terhadap ruang kelola, perempuan juga menjadi sektor yang paling rentan dalam kasus ini.
Budaya masyarakat Indonesia yang masih patriarkis, mendorong perempuan tidak memiliki akses dan kontrol terhadap sumber-sumber penghidupan. Kalaupun diberikan, perempuan hanya memiliki akses tanpa kontrol, dengan tujuan semata-mata untuk membantu perekonomian keluarga, bukan untuk meningkatan produktifitasnya sebagai manusia. Sehingga, jam kerja yang dibebankan kepadanya pun semakin bertambah dan lebih banyak dari pada laki-laki (double bourding).
Ketika investasi padat modal mulai gencar menggerayangi perkampungan dan perkebunan warga dengan alat-alat berat, perempuan pun ikut bersama warga lainnya, sama-sama kehilangan akses ruang kelola. Namun perempuan sering menjadi korban ganda, karena area reproduksinya yang sangat rentan sehingga sangat berpotensi mendapatkan penyakit-penyakit seperti kanker payudara, uterus atau serviks jika memiliki kontak langsung dengan logam berat (merkuri dan/atau sianida). Padahal aktivitas domestik perempuan desa umumnya berada di sungai, seperti mandi dan mencuci. Sementara banyak perusahaan-perusahaan tambang, yang justru melakukan pembuangan limbah melalui aliran sungai-sungai tersebut.

Dampak lainnya, perempuan yang kehilangan akses kelola ini, harus mencari pekerjaan alternatif guna memenuhi kebutuhan anak-anak dan keluarganya. Banyak perusahaan tambang tidak membutuhkan tenaga kerja perempuan, karena aktivitas kerja yang keras. Seringkali perempuan harus memilih menjadi office girl perusahaan. Jika tidak, maka menjadi urban atau migran adalah pilihan yang jauh lebih baik—dari segi upah—dengan kerentanan kerja yang lebih tinggi, dimana tak ada jaminan kesehatan dan keselamatan kerja.

Mendorong Tata Ruang Menjadi Kekuatan Rakyat

Mari belajar dari warga, bagaimana mereka mengelola tanah sebagai ruang kelola yang produktif bagi keberlanjutan hidup tanpa merusak alam. Hanya kebun, hutan dan laut, warga dapat bertahan hidup—dengan hasil sandang dan pangan yang cukup tapi tidak berlebih—bukan emas atau nikel, hanya tanah dan laut menjadi modal. Tidak ada kemiskinan, apalagi pengangguran.

Namun pengetahuan tradisional warga dalam mengelolah sumberdaya alam ini, harus dibentengi dengan kemajuan pengetahuan kekinian yang lebih. Ditengah maraknya investasi padat modal yang menggunakan metode konflik dan perijinan. Dimana para militer dipersenjai untuk menembaki warganya sendiri. Maka warga harus diajarkan bagaimana mempersenjatai diri dengan pengetahuan yang dimiliki, agar tidak lagi menjadi korban keberingasan koorporatokrasi.
Pengetahuan mengelolah tanah ini, harus dibarengi dengan pengetahuan memetakan dan menata ruang kelola agar lebih aman dan produktif kedepannya. Jika selama ini, RTRW yang ditawarkan pemerintah tidak pernah melibatkan warga, maka haruslah ada alternatif pemetaan yang lebih partisipatif terhadap warga. Dimana warga memiliki kesempatan untuk menjadi pioner dalam pemetaan ruang disekitarnya.

Selain itu, pemetaan ruang yang partisipatif ini juga dapat menjadi alternatif pembanding terhadap RTRW pemerintah yang masih bias daratan dan kapital. Mengingat sebagian besar wilayah Indonesia adalah kepulauan, dimana terdapat beberapa wilayah (Sunda Kecil-Maluku) yang merupakan wilayah dengan luas laut lebih besar dibanding darat.

Pemetaan dan penataan ruang partisipatif ini tentunya dapat menjadi kekuatan bagi warga, ketika akan terjadi perampasan atas ruang kelola dan sumber-sumber penghidupan mereka oleh koorporatokrasi. Warga juga jauh lebih mengerti hasilnya, mengingat warga berpartisipasi penuh dalam proses merumuskan tata ruang tersebut.

Yang paling penting juga, pelibatan perempuan dalam pemetaan ruang kelola mereka juga harus dikembangkan. Karena umumnya, perempuan justru yang paling besar menjadi korban karena ketidaktahuan tentang ruang kelolanya selama ini, akibat kontrol terhadap akses yang tidak pernah diberikan kepadanya.

Akhirnya, tata ruang yang baik dan partisipatif adalah menempatkan warga sebagai perumus, tidak bias daratan, tidak bias gender, tidak pro investasi padat modal dan tentunya tidak merusak bumi sebagaimana bumi telah memberikan kita ruang untuk hidup dan berketurunan.

–Tulisan ini dikirimkan sebagai Essay dalam Sekolah Tata Ruang 2013 di Bogor– Tuti